TATO, OBOR MENUJU ALAM KEABADIAN
Tato, meskipun hasil peradaban kuno yang mendunia, asal-usul tato sendiri tak diketahui hingga kini. Ada yang mengatakan tato sudah ada di Mesir sebelum tahun 1300 SM. Praktek pembuatan tato juga ditemukan pada bekas kuburan di Siberia, berasal dari tahun 300 SM. Ketika Julius Caesar menyerbu Inggris pada 54 SM, ia juga menyebutkan bahwa penduduk asli di sana bertato.
Dari segi istilah, tato diambil dari bahasa Tahiti tatu yang berarti "untuk menandai sesuatu". Kata ini kemudian diserap ke bahasa Inggris menjadi tattoo-seperti tercatat pertama kali pada ekspedisi James Cook tahun 1769.
Pemakaian tato dilakukan di hampir seluruh penjuru dunia sejak dulu. Sebagian dari mereka menganggap tato sebagai kekuatan magis, penangkal penyakit atau nasib sial, lainnya sebagai penunjuk identitas, anggota suatu kelompok, derajat dan status sosial pemakainya. Bagi sebagian masyarakat Dayak, tato bisa merupakan "obor" dalam perjalanan menuju alam keabadian setelah kematian.
Dalam sejarahnya, tato mengalami pasang surut. Berawal dari sebuah fenomena budaya masyarakat tradisional yang berkaitan dengan adat dan ritual, kini tato menjadi budaya pop yang trendi. Di Eropa sendiri, tato pernah diharamkan saat agama Kristen datang. Namun, seiring perjalanan waktu, pembuatan tato diperbolehkan lagi ketika demam eksplorasi melanda Eropa dan mereka mulai berhubungan dengan orang-orang Indian serta orang Polinesia pada sekitar abad ke-18 dan 19. Namun saat itu pemakai tato di Eropa dan Amerika hanya terbatas pada para pelaku kriminal, para pedagang, anggota tentara (terutama yang bertugas di luar negeri), atau orang-orang di pertunjukan pasar malam atau sirkus.
Di Indonesia pun reputasi tato pernah buruk pada tahun 1980-an, ketika korban penembakan misterius dihubungkan dengan para pelaku kejahatan yang umumnya bertato. Tato dan kriminalitas memang berdekatan. Pada abad ke-19 misalnya, narapidana AS yang telah bebas, tentara Inggris yang desersi, serta para tahanan di penjara Siberia, semuanya ditandai dengan tato. Demikian juga para tawanan di kamp. konsentrasi Nazi.
Baru pada penghujung abad ke-19, tato mulai sedikit digemari, baik oleh pria maupun wanita di kalangan atas masyarakat Inggris. Namun akibat efek negatifnya terhadap kesehatan, tato pernah menimbulkan malapetaka seperti kanker kulit. Tak heran,pemerintah New York pada tahun 1961 pernah melarang pembuatan tato, karena peralatan yang tercemar menyebarluaskan penyakit hepatitis.
Sebelum jarum logam ditemukan, dulu pembuatan tato dilakukan dengan alat penusuk berupa duri atau tulang yang diruncingkan, menggunakan pewarna alami, seperti damar, daun, air tebu, lemak hewan dan sebagainya. Di era modern, pembuatan tato dengan listrik, pertama kali dilakukan di AS yang kemudian dipatenkan pada 1891. AS pun tak ayal lalu menjadi pusat rancang tato yang berpengaruh.
Indonesia pun tak kalah dengan teknologi itu, pada tahun 1970, orang Indonesia bernama Peser menciptakan mesin tato listrik sederhana yang prinsip kerjanya seperti bel listrik. Medan magnet yang timbul dari 2 kumparan yang dialiri listrik dimanfaatkan untuk menggerakkan jarum dengan kecepatan tinggi. Jarum inilah yang membuat jalan masuk zat pewarna ke dalam kulit.
Taken from Intisari
