JIIYA dot blogsome dot com

October 21, 2007

RANTAI KASIH

Filed under: Kisah

    Di tengah hujan yang sedang, sebuah sedan mewah berhenti di pinggir jalan. Pengendaranya seorang wanita setengah tua berdiri di dekatnya. Di bawah payung wajahnya berkeringat karena panik. Jalanan sepi. Beberapa menit kemudian sebuah mobil pick-up tua terengah-engah melintas. Lalu berhenti persis di depannya. Dari dalam keluar seorang lelaki muda berpakaian lusuh seperti montir. "Apa yang bisa saya bantu, Bu? Nama saya Joni." Bercampur rasa takut, curiga, dan khawatir, wanita tersebut mengutarakan masalahnya. Tak lama problem teratasi. Ban belakang yang pecah sudah diganti dengan ban serep.

    "Terima kasih Nak atas pertolonganmu. Saya mesti bayar berapa sebagai balas jasa?" si wanita bertanya.

    Joni sama sekali tidak berpikir tentang uang. Niatnya tulus, menolong sesama yang membutuhkan bantuan. "Maaf Bu, sebaiknya berikan saja uang itu nanti kepada orang yang butuh pertolongan. Saat itu Ibu bisa mengingat saya." ujar Joni.

    Singkat cerita, wanita tersebut melanjutkan perjalanan. Tengah hari ia sampai di sebuah restoran kecil pinggir jalan. Meski sederhana, makanannya enak. Ia dilayani dengan sangat baik oleh seorang wanita muda yang sedang hamil tua. Dalam hatinya ia kasihan melihat pelayan tersebut masih bekerja keras dalam kondisi perut buncit. Sekelebat muncul bayangan si Joni, yang telah menolongnya. Ketika sang pelayan masuk untuk membereskan piring-piring, ia meninggalkan 5 lembar uang seratus ribuan di bangku.

    Sang pelayan terperanjat melihat uang di bangku tamunya yang telah pergi. Ia menemukan tulisan di kertas tisu. "Terimalah uang ini. Jangan berpikir kamu berutang budi padaku. Aku juga pernah ditolong orang, sama seperti yang kulakukan ini. Pesanku, jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu."

    Malam harinya si pelayan tidak bisa tidur. Ia teringat tulisan tamunya. Bagaimana wanita itu bisa tahu kebutuhan hidupku? Ia sadar tiap hari suaminya kerja keras mencari uang guna biaya persalinan bulan depan. Pemberian tamu wanita tadi siang meringankan bebannya. Ia lalu mencium kening sang Suami yang tidur di sampingnya, "Mas Joni, jangan khawatir lagi. Semuanya akan beres."

 

Taken from Intisari

KESEMPATAN DAN KEBERUNTUNGAN

Filed under: Kisah

    Sudah lama Dina nganggur. Puluhan lamaran telah disebar, belasan kali menjalani tes namun belum juga mendapat pekerjaan. Dalam ketidakpastian ia nyaris putus asa, sampai suatu hari tergerak lagi saat mendengar ada lowongan posisi operator telegraf pada perusahaan telekomunikasi. Meski belum pernah mengoperasikan mesin telegraf, tetapi sewaktu kecil ia diajari kode Morse oleh ayahnya.

    Alangkah kagetnya Dina menjumpai kantor itu sudah penuh pelamar. Tak ada orang di meja resepsionis, kecuali kertas pengumuman yang mengharuskan para pelamar mengisi formulir yang tersedia, lantas diminta menunggu perintah selanjutnya. Lewat celah pintu ruangan direktur yang terbuka separuh, bunyi mesin telegraf  tit… tit… tit… tit… terdengar dengan jelas.

    Setelah mengisi formulir, Dina menunggu. Hatinya gelisah, ia ragu menghadapi pesaing begitu banyak. Dengan usia rata-rata lebih tua darinya, pasti mereka lebih berpengalaman. Ia bulatkan tekad, lalu melangkah masuk ke ruang direktur. Beberapa saat kemudian, Dina keluar ruangan dengan wajah berseri-seri diikuti direktur itu. Kepada para pelamar yang masih menunggu, direktur berkata, "Terima kasih atas partisipasi Anda sekalian. Saya telah menerima salah seorang di antara Anda menjadi pegawai. Silakan yang lain pulang." Pernyataan itu segera menimbulkan kegaduhan.

    "Kami semua menunggu di sini sejak pagi. Belum satu pun dipanggil wawancara. Bagaimana Bapak bisa langsung menerima lamaran gadis yang baru datang dan menyerobot masuk tanpa permisi kepada kami?"

    "Ketahuilah Bapak dan Ibu sekalian. Selama Anda menunggu di sini, sesungguhnya mesin telegraf itu sudah berulang kali menyiarkan pengumuman kepada Anda semua… Apabila Anda memahami pesan ini, silakan masuk ke ruang kantor.. Anda akan menerima pekerjaan ini."

    Kesempatan ada di mana-mana. Penting bagi kita selalu waspada atas apa saja yang terjadi di sekitar kita. Ini persis seperti pernyataan pengarang Inggris abad ke-18, Sir Arthur Helps, penulis drama King Henry the Second. Keberuntungan tak selalu melayang rendah sehingga mudah ditangkap. Begitu pula kesempatan baik tak akan datang dengan cara yang kita inginkan.

 

Taken from Intisari

PEMANJAT POHON ATAU SI PURA-PURA MATI

Filed under: Kisah

    Di zaman serba maju seperti sekarang, banyak orang yang mengaku sulit mendapatkan sahabat sejati. Nah, ada 2 cara melihat apakah orang yang kita kenal baik dalam hidup selama ini bisa disebut sebagai sahabat atau bukan.

    Cara pertama dilontarkan oleh Edward Morgan Forster, sastrawan Inggris yang terkenal dengan novelnya A Room With A View (1908). Bagi Forster bila harus memilih antara mengkhianati negaranya atau sahabatnya, ia lebih memilih keberanian untuk mengkhianati negaranya.

    Cara kedua diperlihatkan oleh seekor beruang hutan. Tersebutlah 2 orang sahabat sedang berjalan bersama melewati sebuah hutan. Tanpa mereka sadari, tiba-tiba seekor beruang keluar dari semak-semak dan menghadang di depan. Reaksi keduanya amat berbeda. Lantaran amat ketakutan, pria yang satu segera meloncat dan memanjat sebuah pohon untuk bersembunyi di atas, tanpa mempedulikan nasib temannya. Yang lain merasa ditinggal dan terpaksa menghadapi hewan buas itu seorang diri tanpa senjata. Apa yang dilakukan? Ia menjatuhkan dirinya di atas tanah, dengan menahan nafas berpura-pura mati. Konon,beruang tidak akan tertarik pada orang yang sudah mati.

    Begitu mendekat,moncong si beruang mengendus-endus kepala,hidung,telinga dan dadanya. Mungkin lantaran tak bernafas, akhirnya si beruang tak tertarik dan pergi.

    Ketika hewan tersebut sudah menghilang dari pandangan, sahabat yang bersembunyi di atas pohon turun dan mendekati temannya yang masih tergolek di bawah. Ia menanyakan apa saja yang dikatakan beruang kepadanya dan mengapa hewan itu lantas pergi. "Dari atas tadi aku lihat beruang itu membisikkan sesuatu ke telingamu cukup lama."

    "Oh itu tak penting. Ia hanya membisikkan padaku agar hati-hati memilih teman. Ia heran, bagaimana aku bisa mengajak teman yang tiba-tiba meninggalkan aku sendirian ketika mendapat kesulitan." Itulah kehidupan. Secara hitam putih, tergambarkan oleh 2 manusia tadi. Nah,kita termasuk yang mana, si pura-pura mati atau si pemanjat pohon.

                
                                            
 

Taken from Intisari






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham